Weekend lalu, sebuah event olah raga menarik diselenggarakan di Jakarta, yakni kejuaraan dunia karate liga WKF. Event ini tidak hanya mempertontonkan keindahan gerak (kata), namun juga strategi, stamina, dan kerjasama tim. Bersama putri tercinta, kami sangat menikmati event ini.
Olah raga ini tidak hanya menuntut endurance/ ketahanan fisik, namun juga ketekunan, fokus dan kesempurnaan. Sebagai contoh, untuk menguasai satu gerakan - entah kuda-kuda, tendangan, ataupun pukulan - seseorang harus memantapkannya dengan latihan berulang-ulang. Bahkan melawan derasnya arus pantai Padang yang sedang surut pun digunakan untuk melatih kekuatan kuda-kuda/ tendangan penulis saat itu. Seakan terbawa oleh kenangan betapa kerasnya pelatih menggembleng penulis serta latihan yang dijalani, hal itu pula yang membawa dampak hingga saat ini: semangat dan fokus kepada hal-hal yang ingin dicapai.
Kepada sang anak, meskipun sangat belia, nilai-nilai Karate, yakni "Sumpah Karate" yang diucapkan di setiap latihan sangatlah bermanfaat. Mereka "berikrar" tidak hanya rajin berlatih dan meningkatkan prestasi, namun juga menjaga sopan santun dan menguasai diri/ tidak gampang emosi. Ikar ini akan terbawa di dalam alam bawah sadar nanti.
Karate bukanlah sejenis olah raga fisik semata, namun dari waktu ke waktu melatih mental, dimana di dalamnya terkandung "semangat bushido" atau semangat pantang menyerah. Semangat ini pula menjadi bekal di dalam menjalani hidup.
Penutup
Di balik semaraknya pertandingan WKF 2012 ini, dimana para karateka membela negara masing-masing, sesungguhnya kemenangan berpulang pada jerih payah latihan yang dijalankan karateka. Mereka dengan segenap daya dan upaya memberikan yang terbaik dari diri mereka yang terbayar seketika - dari hasil pertandingan. Suguhan pertunjukan Kata yang sangat memukau dan bertaraf "World Class" ini memperlihatkan kekuatan ketekunan, kesungguhan dan kesempurnaan setiap karateka. Dan semangat olah raga Karate inilah yang penulis ingin wariskan kepada ananda tercinta. Semoga!
Selasa, Juni 26, 2012
Selasa, Juni 19, 2012
Catatan Pinggir: Kisah Ikan Salmon dan Kisah Kepiting
Upaya menjalankan manajemen perubahan tidak langsung jadi dalam satu hari. Inisiasi ini harus dipahami oleh seluruh Change Agent yang mewakili seluruh unit kerja di pelosok tanah air. Sebagai bagian dari acara, tentunya ada kata sambutan bagi para Change Agent oleh jajaran yang lebih tinggi. Kisah inspiratif bak dongeng ini menyemangati para Change Agent untuk terus-menerus menjalankan pembaharuan, pantang menyerah, dan senantiasa menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, untuk perubahan yang lebih baik.
Berikut ini adalah catatan pinggir tentang Kisah Ikan Salmon dan Kepiting*
Seringkali ikan
salmon yang telah ditangkap nelayan mati sebelum sampai ke pantai. Ikan salmon yang bernilai adalah ikan salmon yang segar dan masih hidup. Lalu cara apa yang dipakai oleh nelayan tsb agar ikan
salmon tetap hidup hingga ke garis pantai? Caranya adalah melepaskan beberapa ekor ikan hiu kecil untuk mengejar ikan-ikan
salmon tsb. Hasilnya ikan salmon tetap segar karena ikan tersebut terus bergerak.
-o-
Lesson learned dari cerita ini adalah, makhluk hidup itu harus bergerak terus untuk kebaikan dirinya sendiri. Sehingga tidak heran, "makhluk-makhluk" yang tengah berada pada comfort zone seringkali didera sakit, dan tanda-tanda fisik seperti ubanan, pelupa, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
-o-
Kisah kedua adalah tentang Kepiting. Untuk menangkap kepiting yang hidup di dasar lautan, caranya sangat mudah. Letakkan 2-3 ekor kepiting di dalam kotak. Di dasar lautan, kepiting-kepiting itu akan mengajak kepiting-kepiting lain untuk bergabung. Lalu kepiting yang satu akan menjepit kepiting-kepiting lainnya, dan akibatnya akan banyak sekali kepiting-kepiting yang tertangkap oleh para nelayan.
-o-
Sebagai perumpamaan bagi kita, janganlah kita menjadi "kepiting yang saling menjepit", sehingga karena satu dan lain hal kita semua tidak dapat berubah karena sudah terjepit oleh ulah kepiting-kepiting yang lain.
-o-
Dalam hidup ini atau khususnya pada institusi ini tidak ada "zona aman". Sebagai landasan mekanisme bagi perubahan tersebut, perlu dibentuk mindset. Sebagaimana ikan salmon yang harus terus "berlari", kita mencari peluang-peluang untuk menciptakan kemajuan dan menciptakan inovasi.
Berikut ini adalah catatan pinggir tentang Kisah Ikan Salmon dan Kepiting*
Seringkali ikan
salmon yang telah ditangkap nelayan mati sebelum sampai ke pantai. Ikan salmon yang bernilai adalah ikan salmon yang segar dan masih hidup. Lalu cara apa yang dipakai oleh nelayan tsb agar ikan
salmon tetap hidup hingga ke garis pantai? Caranya adalah melepaskan beberapa ekor ikan hiu kecil untuk mengejar ikan-ikan
salmon tsb. Hasilnya ikan salmon tetap segar karena ikan tersebut terus bergerak.-o-
Lesson learned dari cerita ini adalah, makhluk hidup itu harus bergerak terus untuk kebaikan dirinya sendiri. Sehingga tidak heran, "makhluk-makhluk" yang tengah berada pada comfort zone seringkali didera sakit, dan tanda-tanda fisik seperti ubanan, pelupa, dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.
-o-
Kisah kedua adalah tentang Kepiting. Untuk menangkap kepiting yang hidup di dasar lautan, caranya sangat mudah. Letakkan 2-3 ekor kepiting di dalam kotak. Di dasar lautan, kepiting-kepiting itu akan mengajak kepiting-kepiting lain untuk bergabung. Lalu kepiting yang satu akan menjepit kepiting-kepiting lainnya, dan akibatnya akan banyak sekali kepiting-kepiting yang tertangkap oleh para nelayan.
-o-
Sebagai perumpamaan bagi kita, janganlah kita menjadi "kepiting yang saling menjepit", sehingga karena satu dan lain hal kita semua tidak dapat berubah karena sudah terjepit oleh ulah kepiting-kepiting yang lain.
-o-
Dalam hidup ini atau khususnya pada institusi ini tidak ada "zona aman". Sebagai landasan mekanisme bagi perubahan tersebut, perlu dibentuk mindset. Sebagaimana ikan salmon yang harus terus "berlari", kita mencari peluang-peluang untuk menciptakan kemajuan dan menciptakan inovasi.
* Kisah inspiratif ini diceritakan oleh Bapak Charmeida Tjokrosuwarno, Tenaga Pengkaji Bidang Perencanaan Strategik, Kementerian Keuangan.
Senin, Juni 18, 2012
Catatan Tentang Novel Sepatu Dahlan
Adakah suri tauladan yang dapat dicontoh di tengah-tengah centang perenangnya kehidupan berbangsa saat ini? Sebuah novel yang mengisahkan perjalanan hidup seorang anak muda yang dibesarkan dengan segala kekurangan; hidup dalam kehidupan dimana kelaparan, ketiadaan sandang menjadi kawan karib, dimana penyakit dan kematian keluarga/ handai taulan mendera keluarga ini. Di balik setiap lembar kisah yang menyentuh & menyayat hati, anak muda ini bagaikan bunga matahari yang tetap optimis & tegar menatap masa depannya.
Betapa keras cita-cita dan usahanya untuk keluar dari rengkuhan kemiskinan, dengan melecut dirinya untuk senantiasa berprestasi tinggi, aktif dalam kegiatan eskul (olah raga, Perkumpulan Siswa, dst), dan bekerja sedemikian kerasnya membantu orang tua menggembala ternak dan sesekali menjadi kuli. Dengan dukungan dan kasih sayang kedua orangtua yang tak kenal lelah mengupayakan yang terbaik bagi anak-anaknya, jerih payah anak muda yang penuh semangat ini membuahkan hasil. Prestasi demi prestasi berhasil diraihnya sebagai siswa teladan, olahragawan berbakat dan pelatih olah raga voli di kampungnya. Meskipun ia tidak memiliki apa-apa, ia dicintai dan disegani teman-temannya.
Rupanya, kerasnya hidup tidaklah menyebabkan ia lupa dengan masa lalunya. Ia tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana, apa adanya, bekerja keras dengan tulus ikhlas dan tentunya dicintai teman-temannya. Setiap inisiatif yang ia dijalankan saat ini mengingatkan penulis akan keahliannya dalam "mengatur strategi permainan voli" di kampungnya. Dan sangat terasa di dalam tulisan-tulisannya dalam membenahi BUMN bermasalah.
Membaca kisah ini menyebabkan penulis dapat memahami mengapa ia begitu dekat dengan orang kecil; menyelami, mengalami kehidupan wong cilik- meskipun beliau berada di tengah-tengah kesibukan sebagai pimpinan yang mengatur perusahaan BUMN se-Indonesia.
Membaca kisah ini membuat penulis bangga, dengan semangat tanpa henti, terobosan-terobosan yang beliau lakukan sungguh memberikan energi, harapan bahwa bangsa ini tengah berbenah untuk memacu ketertinggalan, keterbelakangan dan keterkungkungan... bahwa Hei... kita dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya!
Wawancara dengan Kick Andy:
Betapa keras cita-cita dan usahanya untuk keluar dari rengkuhan kemiskinan, dengan melecut dirinya untuk senantiasa berprestasi tinggi, aktif dalam kegiatan eskul (olah raga, Perkumpulan Siswa, dst), dan bekerja sedemikian kerasnya membantu orang tua menggembala ternak dan sesekali menjadi kuli. Dengan dukungan dan kasih sayang kedua orangtua yang tak kenal lelah mengupayakan yang terbaik bagi anak-anaknya, jerih payah anak muda yang penuh semangat ini membuahkan hasil. Prestasi demi prestasi berhasil diraihnya sebagai siswa teladan, olahragawan berbakat dan pelatih olah raga voli di kampungnya. Meskipun ia tidak memiliki apa-apa, ia dicintai dan disegani teman-temannya.
Membaca kisah ini menyebabkan penulis dapat memahami mengapa ia begitu dekat dengan orang kecil; menyelami, mengalami kehidupan wong cilik- meskipun beliau berada di tengah-tengah kesibukan sebagai pimpinan yang mengatur perusahaan BUMN se-Indonesia.
Wawancara dengan Kick Andy:
Kamis, Juni 14, 2012
Penguji Kekokohan Nilai-Nilai Keluarga
Pembaca yang berbahagia, sebagaimana
penerapan Budaya Organisasi, sebetulnya di tengah-tengah keluarga pun kita menerapkan, memperkenalkan, dan bahkan mempertahankan nilai-nilai keluarga.
Semakin teruji kekuatan nilai-nilai tersebut, maka semakin matang sifat,
karakter, dan perilaku anggota keluarga di tengah lingkungan masyarakat.
Sedari lahir hingga dewasa, Sang Anak
secara sadar maupun tidak sadar sebetulnya telah terpapar dan ditempa
oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya. Sang Anak dibiasakan,
dibimbing, dan diajarkan orang tua berupa kegiatan, kebiasaan, perilaku yang
dijalankan berulang kali, hingga kegiatan/ kebiasaan/ perilaku yang terkecil.
Dan acapkali bilamana orang tua tidak berkenan dengan kegiatan/ kebiasaan/
perilaku tsb, Sang Anak ditegur, dimarahi, bahkan mendapatkan hukuman. Dan tak
bosan-bosannya orang tua senantiasa mengingatkan, terus-menerus menanamkan
nilai-nilai hidup tsb kepada Sang Anak tercinta, sehingga tanpa diawasi,
disuruh dan ditemani mereka telah menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai
yang kita inginkan.
Sebagai contoh: memupuk perilaku
"otonom/ mandiri/ mampu mengambil keputusan sendiri". Orang tua akan
mendidik anak dengan diberikan tantangan, persoalan, ujian (sesuai dengan
usianya) untuk diputuskan sendiri. Sang Anak cenderung diberikan kebebasan/
keleluasaan untuk menentukan kegiatannya dan tentunya mempertanggungjawabkan
kegiatannya. Orang tua juga menyediakan fasilitas kepada Sang Anak untuk
mengekspresikan minatnya.
Lambat laun, "pengalaman demi
pengalaman" yang dialami oleh Sang Anak akan membentuk selapis demi selapis
kepercayaan diri. Bahwa seiring dengan bertambahnya umur, mereka berani dan
mampu mengambil keputusan/ beraktifitas/ mempertanggungjawabkan keputusan
sendiri. Perlahan, karakter ini akan membentuk jiwa kepemimpinan, oleh karena senantiasa disirami dan tercerahkan oleh lembaga yang bernama “keluarga”.
Lalu bagaimana dengan memupuk perilaku
kejujuran, kesederhanaan, dan perilaku-perilaku luhur lainnya? Sebagaimana halnya pendidikan, semuanya tidak
terjadi dalam satu hari. Terkadang konsistensi nilai dapat meningkat dan
menurun sebagaimana keimanan. Dan tak jarang Sang Anak mempertanyakan nilai-nilai
tersebut kepada orang tua:
"Pa, kenapa kita harus
jujur?"
"Ma, kenapa tadi beli tas/
sepatu, kan sepatu/ tasnya belum rusak?"
"Kenapa si A punya permainan X.
Aku harus punya X juga.."
dan seterusnya....
Dan sadarkah kita, bahwa dialog demi dialog yang terjadi, meskipun sederhana dan remeh, hal itu sebetulnya semakin memperkuat nilai-nilai keluarga?
Dan sadarkah kita, bahwa dialog demi dialog yang terjadi, meskipun sederhana dan remeh, hal itu sebetulnya semakin memperkuat nilai-nilai keluarga?
- Bahwa keluarga A menjunjung tinggi kejujuran,
- Keluarga B menjunjung tinggi nilai kesederhanaan,
- Keluarga C sebetulnya menjunjung tinggi "nilai fungsi", bukan "aksesori"
***
Di akhir hari seringkali orang tua mengevaluasi, merefleksi kegiatan/ kebiasaan/ perilaku apa yang dilakukan Sang Anak sehari-hari; pelajaran apa yang didapatkan; apa yang harus dilakukan supaya hari ini lebih baik dari kemarin; dukungan/ bantuan apa yang dibutuhkan oleh Sang Anak dari orang tua; dst. Evaluasi dan refleksi ini akan semakin mengokohkan anak untuk memahami nilai-nilai dan memotivasi mereka menjadi lebih baik.
Akhir kata, pelaksaan nilai-nilai
keluarga, nilai-nilai organisasi berpulang pada sejauh mana orangtua/ pimpinan
mempupuk, menyirami, menginspirasi para anggota-anggotanya untuk tetap
konsisten dengan kegiatan/ kebiasaan/ perilaku sehari-hari. Sehingga dengan
kekuatan "mencontohkan, memastikan, memarahi, mengapresiasi,
mengevaluasi" Sehingga tanpa pengawasan, sang penguji kekokohan
nilai-nilai ini telah tumbuh sebagai generasi yang optimis, inovatif dan penuh
kepercayaan diri. Semoga, saja!
Rabu, Mei 02, 2012
Memperingati hari Pendidikan Nasional 2 Mei: Nation Values vs Corporate Values
Sehari sebelum hari ini, penulis
membeli majalah yang membahas mengenai unggulnya pendidikan di
Finlandia, dimana meskipun mereka adalah negara berpenduduk homogen nun jauh di
Eropa Utara sana, mereka berhasil membangun pendidikan dengan visi mengajarkan
anak-anak bagaimana caranya hidup, bukan bagaimana cara menghadapi ujian dsb. Lalu apa rahasia suksesnya
pembangunan/ pengembangan pendidikan di Finlandia? Meskipun mereka adalah negara
kecil, sebanyak 42.000 tenaga pengajar di sana adalah 10% dari populasi sarjana
terbaik di seluruh universitas Finlandia dan bahkan sebagian dari mereka menyandang
gelar master. Fakta kedua: guru-guru di sana memiliki kecintaan dengan bidang
pendidikan mereka, dimana mereka saling mem-benchmark metode pengajaran mereka.
Fakta ketiga: negara memberikan cuti bersubsidi selama 3 tahun untuk ibu
pekerja yang melahirkan, dan memberikan subsidi untuk penitipan anak hingga
anak berusia 3-5 tahun. Fakta keempat: mereka memiliki visi, bahwa untuk
membangun negara yang kuat haruslah dimulai dari pendidikan.
Kembali ke
pokok pembahasan memperingati hari Pendidikan Nasional. Benang merah pendidikan
di Finlandia tidak lepas dari Nation Values. Tapi sebelum sampai ke Nation
Values, ada baiknya kita melihat sejenak dalam lingkup organisasi yang lebih
kecil: Corporate Values. Corporate Values merupakan serangkaian perilaku utama
yang menjadi dasar dan arah bagi perusahaan dalam mengambil keputusan, menyusun
kebijakan, pedoman karyawan dalam berperilaku sehari-hari, dan pedoman SDM/
pimpinan yang berwenang dalam memberikan
reward/ punishment. Bentuk makro dari
Corporate Values adalah “Corporate Culture”. Dimana terdapat pola/ interaksi
yang besar yang melibatkan perilaku-perilaku anggota organisasi dalam organisasi
(sub cultures vs main stream cultures), simbol-simbol (event, tata letak ruangan,
maupun artifak lain yang teramati), dan system di dalam organisasi (manajemen
operasi, sistem SDM, sistem informasi, dll). Interaksi yang besar ini menjadi mosaik
berupa pesan-pesan, bermuatan moral, strategi, pelaksanaan kegiatan/ program/ inisiatif strategis yang memperkuat Corporate
Values tsb.
Bagaimana
dengan Nation Values? Mungkin pembaca ingat dengan Penataran P4 (Pedoman Pengamalan
dan Penghayatan Pancasila), Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Kewiraan,
dst. Meskipun pelajaran tsb merupakan pelajaran “di awang-awang”, sulit
dimengerti, abstrak, dst. Hal tersebut merupakan bentuk kesadaran pemerintah
kita untuk menanamkan, membentuk, dan membangun Nation Values di waktu itu.
Nation Values Kekinian
Masalahnya,
fondasi yang dibangun tersebut mulai bergeser dan bahkan rapuh. Mengapa? Nation
Values kita dalam konteks kekinian adalah “Laissez faire et laissez passer" ('Let do and let pass'), melalui pesan-pesan yang kita baca/ dengar/ tonton setiap hari di koran-koran,
berita online, hingga berita di televisi. Para pimpinan, sebagai role model kita
adalah orang yang sibuk mengumpulkan kekayaan, melekangkan kekuasaan, mencari
popularitas, tidak berpihak kepada rakyat (dalam artian kata “menindas” yang diperhalus),
ABS (Asal Bapak Senang)/ mementingkan pencitraan (dalam artian kata “tidak peduli” yang
diperhalus), bahkan kroniknya adalah tidak realistis.
Perilaku tidak bermoral/ tidak pantas mulai
didemonstrasikan, integritas mulai dipertanyakan, dan skandal-skandal
pun bermunculan. Seolah Laissez faire et laissez passer dilakukan tanpa kerangka yang jelas, asalkan menguntungkan
pribadi/ sekelompok orang.
Sistem mulai
dirusak, dipolitisir, dipelintir, dst. Menonton siaran politik sudah layaknya
seperti menonton sandiwara.
Inilah pesan-pesan
sehari-hari/ siaran yang kita tonton: “Laissez faire et laissez passer". Dan pikirkan
bagaimana kesudahan generasi penerus bangsa yang besar ini.
Renungan ini
dibuat atas dasar keprihatinan penulis melihat para pemimpin, role model bangsa, orang pilihan yang
duduk memimpin dan mengelola bangsa, yang merepresentasikan identitas bangsa. Pesan-pesan
yang semakin jauh dari “ketinggian moral” menjadi pembelajaran yang akhirnya menjadi
pertanyaan yang pantas direnungkan kita semua:
·
- Apakah pendidikan kita telah berhasil baik membangun negara kita menjadi negara yang kuat dan berdaulat?
- Apakah pendidikan kita telah berhasil baik membangun manusia yang bermoral tinggi, berkarakter khas, memiliki self-pride yang tinggi?
- Apakah pendidikan kita telah berhasil baik membangun generasi yang unggul, kreatif, mencintai/ memakai produk buatan Indonesia, mengandalkan diri sendiri, toleran, dan memiliki militansi yang tinggi?
Pendidikan bukan hanya di tangan para
guru, bukan pula tanggung jawab Departemen Pendidikan semata. Pendidikan
diawali dari rumah, pendidikan diawali dari bagaimana orang tua menanamkan Values
kepada anak-anaknya. Pendidikan adalah sesuatu yang intangible, menuntut role model makro yang menunjukkan, yang memberi
contoh, yang mengoreksi, yang memberi penghargaan, atas nilai-nilai yang
berhasil baik dijalankan oleh setiap anggota organisasi.
Negara ini adalah “lembaga pendidikan”
yang besar, kita belajar dan mencontoh tingkah laku para pimpinan, role model
yang beruntung, terpilih dari sedikit populasi rakyat Indonesia, menjadi cerminan identitas Nation Values kita.
Semoga di hari pendidikan ini menjadi momen renungan dan penyadaran bagi kita semua untuk generasi yang lebih baik.Semoga!
Semoga di hari pendidikan ini menjadi momen renungan dan penyadaran bagi kita semua untuk generasi yang lebih baik.Semoga!
Langganan:
Postingan (Atom)






